BUKAN KARENA Oleh: Saripudin Lubis (sumber: pixabay.com) Di atas sajadah seperti masa sebelum peristiwa menyedihkan itu, Rina k...

Kiriman Guru: Pentigraf

BUKAN KARENA
Oleh: Saripudin Lubis

(sumber: pixabay.com)

Di atas sajadah seperti masa sebelum peristiwa menyedihkan itu, Rina kembali mengaji selepas Shubuh.  Udara dingin sedikit membuat suara Rina serak, namun tetap lantunan ayat suci itu terdengar merdu. Suara bacaan Sholat dari masjid-masjid yang tadi bersahut-sahutan telah berhenti. Orang-orang bergegas kembali ke rumah untuk bersiap mencari rezeki di tanah Tuhan. Kini silih berganti kicau burung cicit dari tanah kosong depan rumahnya. Mata Rina masih sembab bersebab peristiwa dua Minggu lalu. Sesekali isak masih terdengar pedih. Anak semata wayangnya yang masih berusia tiga tahun telah bertemu Sang Khalik. Anak lelaki yang ketika mendapatkannya pun harus menunggu lama sebelum lahir ke semesta.  Ya, Ryan wafat setelah dinyatakan positif terpapar Covid-19 di rumah sakit Harapan Sehat. Pemakamannya pun dilakukan di komplek khusus korban covid-19, tentu jauh dari makam suaminya yang wafat baru satu setengah bulan. Dengan mengikuti prosedur pemerintah, pemakaman Ryan hanya dillakukan oleh tim medis berjumlah enam orang.  Dari kejauhan Rina hanya bisa menangis dan menangis.

Rina sudah mencoba ikhlas, namun mengapa ia harus mendengar perkataan Pak Al.  “Aduh, ini maaf lho Bu Bu Rina. Kalau ajal memang sudah pastilah itu. Namun barangkali bisa juga Ryan tertolong kalau saja Ibu tidak membawa langsung ke rumah sakit di kota Binjai.  Ini maaf lho, Bu Rina, seharusnya almarhum Ryan Ibu bawa langsung kemarin ke Rumah Sakit Internasional Bintang Medis Medan. Rumah sakit itu dokter-dokternya lebih profesional. Buktinya cucu saya, alhamdulillah sudah bisa dibawa pulang sebentar lagi. Saya khawatir anak Ibu bukan terkena Covid, bisa saja DBD atau yang lainnya.” Pak Al yang juga terkenal kaya itu dan pandai ceramah agama itu mengatakannya diselingi kata ‘maaf’ berulang-ulang. Tapi bagi Rina itu pukulan yang luar biasa menghunjam ulu hatinya. Hati Rina baling.

Tak terasa air mata Rina kembali tumpah dan membasahi Al Quran yang dibacanya. Rina berusaha mengambil kertas tisu untuk mengelap halalaman Al-Qur’an itu agar tak terlalu basah. Entah mengapa tiba-tiba Rina merasa imannya tengah terbang melayang-layang. Sambil Rina mengelap, sejenak Rina membaca arti ayat Al-Qur’an yang Ia baca tadi. Surah ke sepuluh, ayat 49: Katakanlah: “Aku tidak kuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya”. Rina tercenung. Rina kembali menangis, namun kali ini air mata atas nama kebodohannya. Bukankah sudah begitu lama ia menghafal arti ayat itu. Hati Rina tiba-tiba terasa lega. Ia merasa menemukan dirinya kembali. Baru saja hendak menutup Al-Qur’an, dari masjid dekat rumahnya terdengar pengumuman. “Innalillahi wa innailaihirojiuun. Telah berpulang ke rahmatullah Santi yang bersusia lima tahun, yang merupakan cucu dari Pak Al. Saat ini jenazah masih di Rumah Sakit Internasional Bintang Medis Pusat. Insyaallah akan dikebumikan nanti selepas Zhuhur”.
***

Tentang Penulis:
Penulis adalah tokoh sastra Binjai Sumatera Utara. Penulis juga masih aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA  Negeri 1 Binjai dan Dosen Sastra STKIP Budidaya Binjai.


+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++

0 coment�rios: