( Jakarta - AGBSI ) Sebanyak 104 orang guru-guru seluruh Indonesia mengikuti Seminar dan Lokakarya "Kebahasaan dan Kesasastraan...

Peserta Semiloka Bertransformasi, Demi Pendidikan Indonesia yang Lebih Keren




(Jakarta - AGBSI) Sebanyak 104 orang guru-guru seluruh Indonesia mengikuti Seminar dan Lokakarya "Kebahasaan dan Kesasastraan di Era Milenial dan Revolusi Industri 4.0 di PPPPTK Bahasa, Jumat s.d. Minggu, tanggal 4 s.d. 6 Oktober 2019.
Kepala Bidang Pemartabatan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dra. Ovi Soviati Rifay, M.Pd., mengatakan bahwa guru-guru bahasa Indonesia harus membuat perubahan dalam paradigma pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0.
"Berbagai fasilitas pembelajaran bahasa Indonesia yang menyasar generasi milenial sudah sangat banyak, termasuk yang diluncurkan Kemdikbud seperti produk-produk kebahasaan di laman ahlibahasa.kemdikbud.go.id. Jadi hal apa lagi yang menghalangi guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajarkan bahasa Indonesia?" ujarnya saat memberikan materi terkait Pemartabatan Bahasa Indonesia pada hari Jumat (4/10/2019).

Kegiatan seminar dan Lokakarya Kebahasaan dan Kesasastraan di Era Milenial dan Revolusi Indutri 4.0 ini sendiri diinisiasi dan dilaksanakan oleh Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) dengan arahan dan pembinaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, serta PPPPTK Bahasa. Adapun keseluruhan peserta terdiri dari 21 laki-laki dan 83 perempuan. Masing-masing berasal dari guru SD (1 orang), guru SLTP (41 orang), guru SMA (37 orang), guru SMK (25 orang).
Inilah yang membuat kami tertarik dengan tema kegiatan. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia dituntut mampu untuk menyuguhkan dan memfasilitasi pembelajaran secara kreatif dan inovatif, sehingga jangan sampai terjadi anekdot ‘pembelajaran untuk abad milenial dengan materi dan guru zaman kolonial’," Ungkap Drs. Suwarsono, M. MPd., selaku ketua panitia yang sekaligus sebagai Ketua II DPP AGBSI.
Sementara itu, dari sekian organisasi profesi guru yang ada di Indonesia, AGBSI merupakan salah satu organisasi profesi guru yang telah berhasil menjalankan tata kelola yang sesuai regulasi pemerintah. 
“Hal ini sesuai dengan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni pengorganisasiaan dan pengelolaannya murni oleh guru dan untuk guru.” Tambahnya.
Wawan Gunawan, salah seorang peserta di Era Milenial dan Revolusi Indutri 4.0 asal Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi bangga bisa ikut kegiatan ini walaupun usia pengabdiannya sebagai guru tinggal beberapa tahun lagi. 
"Sejatinya, belajar itu tidak mengenal batas waktu. Banyak rekan-rekan guru lain yang seolah skeptis dengan peningkatan kinerja mereka. Padahal, siswa kita menginginkan guru mereka empati terhadap siswanya. Dengan demikian, saya mengikuti kegiatan seperti ini bukan hanya untuk saya sendiri tetapi tentu untuk mereka siswa-siswi kita." Pungkasnya. 
Pada kesempatan kegiatan ini pula, beberapa guru berprestasi di bidang literasi mempersembahkan karya mereka untuk diserahkan pada pihak PPPPTK Bahasa, seperti yang dilakukan oleh Himmah Mufidah dari MA Al Maarif Malang, Jawa Timur yang menyerahkan buku kumpulan Praktik Baik-nya. (Panji Pratama)

0 coment�rios: