Autobiografi Oleh:  Slamet Samsoerizal (Guru bahasa Indonesia SMP Negeri 230 Jakarta) Bahkan dedaunan yang luruh dan diterbangk...

Usai Satyalencana Pendidikan 2018: Lantas?

Autobiografi Oleh: 
Slamet Samsoerizal
(Guru bahasa Indonesia SMP Negeri 230 Jakarta)




Bahkan dedaunan yang luruh
dan diterbangkan angin
entah kemana 
telah ditata-Nya

(Mas Nakurat)



Dua tahun ini –2017 dan 2018—Allah SWT memberikan rezeki luar biasa kepada saya: sehat dan semangat.  Atas dua hal tersebut, saya mengikuti arus air yang mengalir. Menapaki jalan sunyi dalam kesemestaan. Jauh dari hingar-bingar ambisi yang ambisius. Maka, ketika pada 25 September 2017, saya meraih juara pertama dalam laga OGN (Olimpiade Guru Nasional) mata pelajaran Bahasa Indonesia dan pada 25 November bertepatan dengan Puncak Hari Guru Nasional saya mendapat Penghargaan Satyalancana Pendidikan 2018 dari Pemerintah melalui Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo lumuran syukur menebal menyatu dalam jiwa raga.

* * *

Bertemu dengan guru-guru terpilih dan terbaik dalam kiprah prestasi dari belahan Nusantara ini, nalar alu saya semakin kinclong walau tetap tumpul. Sosok mereka yang memesona membuat saya merasa ikut “ada”-- berada dalam barisan mereka. Kiprah mereka di dunia pendidikan sesuai mata pelajaran yang diampu telah melanglang AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) membuat decak kagum. Intinya, saya jadi banyak “ngelmu” dari mereka – para guru hebat tersebut.

Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan terhadap kepemilikannya cukup membuat saya selalu merenung. Ya merenung agar selalu bumabunga (buka mata buka telinga) terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang terus bergulir. Itu terbenak ketika saya lulus dari IKIP Jakarta (sekarang Unversitas Jakarta). Saya merasa, bahwa ilmu yang saya peroleh dari IKIP harus mampu saya dedikasikan kepada siapa pun. 

Maka, ketika melalui kelok berliku saya berhasil dalam arena OGN 2017, keinginan untuk lebih berkiprah makin membuncah. Diundang sebagai narasumber dalam ragam temu ilmiah membincang ihwal pendidikan seperti Bedah SKL bahasa Indonesia jelang Ujian Nasional, Talk Show, Wawancara dengan RRI secara langsung,  merupakan kebahagiaan tersendiri. 

Penulis duduk dari kanan nomor (2) saat mengikuti OGN Bahasa Indonesia 2017 bersama peserta dan Dewan Juri

Sebagai guru bahasa Indonesia, (semoga) saya tergolong  warga yang cinta negeri yang hebat ini. Oleh karena cintanya, peran kecil saya ini adalah melestarikan keberadaan bahasa Indonesia di muka Indonesia. Syukur-syukur mampu membuat para pemakai bahasa Indonesia tambah trampil dalam berbahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan. Lebih senang lagi, apabila para pemakai menghargai miliknya hingga mereka tersinggung,  ketika di ruang publik yang makin riuh justru bukan bahasa Indonesia dan masyarakat lebih bangga berbahasa selain bahasa Indonesia. 

Itu sebabnya, ketika diundang sebagai peserta oleh Badan Bahasa dalam Bimtek Literasi dan dalam Kongres AGBSI (Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia) adalah kebahagiaan lain. Disini, ilmu bertebaran. Sebagai peserta saya tinggal meraih ilmu yang ditebar para pakar dengan gratis.  Gizinya pun bertambah. 
Penulis sebagai Peserta Kongres AGBSI 

Nalar Alu

Menulis merupakan langkah awal karier saya dalam berbagi. Dengan menulis, saya dapat menuangkan banyak hal. Intinya saya dapat menggagas tanpa batas. Meskipun demikian, semua tulisan berupa:  puisi, cerpen, esai, artikel, modul, dan ragam buku pelajaran  yang merupakan cerminan intelektual penulisnya tetap bernuansa nalar alu.

Hal yang saya maksud adalah, bahwa semua karya tersebut dituliskan tidak berdaya ledak populer, apalagi memiliki kualitas ilmiah yang mewah. Semua tulisan tersebut lebih diniatkan agar sezarah ide bisa sampai ke siapa pun yang membacanya. Dengan keterbatasan tersebut, saya sangat bahagia karena dengan menulis mampu merawat kepikunan. 

Menang dalam ajang lomba baru pertama saya ikuti dan menang. Itu saya alami pada 2017. Luar biasakah? Sebagaimana kutipan dari puisi Mas Nakurat pada awal tulisan ini: “Bahkan dedaunan yang luruh/ dan diterbangkan angin/entah kemana/ telah ditata-Nya//. ” Saya bersyukur, karenanya. 

Penulis nomor 1 dari kiri ketika menerima Medali Emas OGN 2017

Usai kemenangan itu, saya dihadiahi ragam keberkahan. Di antaranya adalah mengikuti short course ke Jepang selama 21 hari. Mata semakin terbuka, raga semakin lapang, dan benak semakin nyaman dan enak. Betapa ada sebuah negeri berjuluk negeri Sakura -- yang penduduknya tertata secara menakjubkan dalam hal disiplin:  antre, tertib berlalu lintas, memanfaatkan waktu, dan kebersihan.  

Penampakan potret pendidikan sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sedemikian seragam. Keseragaman ini dipertontonkan lewat disiplin ketika baru memasuki area sekolah. Sistem meletakkan sepatu di rak yang disediakan, keseriusannya dalam meraih ilmu di kelas, dan inisiatif untuk selalu bertanya atau mendebat dalam pembelajaran membuat decak kagum. Rakus membaca menjadi ciri khas mereka. Betapa hal ini tidak mengagumkan, cuma terpaut menunggu saat makan yang dikomandoi melalui pelantang sekolah, mereka manfaatkan dengan membaca dari perpustakaan yang ada di masing-masing kelas.

Nalar alu saya segera terasah. Beranjangsana ke sekolah setara SMA, dipandu gadis cantik Jepang bernama Hiroko. Ia piawai memandu saya dan menjelaskan tentang sekolahnya dengan aneka kegiatannya. Belum lagi ketika mengikuti kuliah di Fukuyama City University. Para profesor yang mengampu kuliah tentang Sistem Pendidikan di  Jepang adalah kalangan muda usia, 35 tahun. Kekaguman itu tebersit lebih dikarenakan penguasaan ilmunya yang mumpuni tetapi tampil bersahaja. Bahkan ketika hendak makan siang pun, mereka beramai-ramai beserta rektornya rela mengantre di kerumunan mahasiswa dan kami. 


Salah satu kegiatan Pembelajaran Seni di Jepang



Nalar alu saya merasa diruncingkan manakala rezeki lain mampir. Rezeki apakah? Saya diunggulkan sebagai calon penerima Satyalancana Pendidikan 2018. Melalui serangkaian prosedur dan penelitian berkas dan non-berkas dari Panitia: kemendikbud, kepolisian, hingga BIN (Badan Intelijen Negara), akhirnya saya lulus dan memasuki karantina calon penerima Satyalancana Pendidikan 2018. 
 

Penulis saat menerima Penghargaan Satyalancana Pendidikan 2018

Mengapa diruncingkan? Kami para penerima penghargaan bergengsi itu, diinapkan di Century Hotel Senayan Jakarta sebelum acara penganugerahan. Sesi yang mengesankan tidak saja merasa dapat bersilaturahmi dengan para guru hebat, namun ada pembekalan dari dua profesor yakni Prof Harsono dan Prof Dewa Komang, tentang menulis karya ilmiah. Selain itu, ada pesan baik dari narasumber pihak Sekmilpres dan Kemendikbud, kepada para peraih penghargaan ini. Pesan yang disampaikan antara lain, agar kami selalu membawa kemanfaatan dalam pendidikan bagi semua. 


* * *
Oleh karena penganugerahan yang direncanakan bertepatan pada Hari Guru nasional, 25 November 2018, jatuh pada hari Minggu, maka pada hari itu diisi dengan Jalan Sehat dari depan Kantor Pusat Kemendikbud mengelilingi Jembatan Semanggi. Ada catatan menarik pada hari ini, bahwa saya diwawancarai oleh RRI Pro-2 FM. Topik wawancara yang disiarkan secara langsung tersebut berkisar tentang hari guru.  Kemudian, pada 4 Desember 2018 saya diundang Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dalam acara Talkshow Hari Guru ke-73 dalam kemasan topik “Peran Guru dalam Mewujudkan Jakarta Maju Kotanya Bahagianya Warganya”

Berkaitan dengan penganugerahan ini, saya semakin bergolak ingin memperbanyak memiliki peserta didik yang tidak saja cerdas berbahasa Indonesia, namun mulia dalam akhlak. Karakter ini bukan tidak mungkin mampu terwujud, bila Allah SWT  berkehendak lewat niat yang selalu menyengat jiwa raga ini. 

(Tulisan ini merupakan nukilan dari buku antologi esai SELAKSA CERITA SATYALANCANA PENDIDIKAN yang diterbitkan oleh Goeboek Senja Poestaka pada April 2019, halaman 123 - 128)

3 comments: