Resensi oleh: Slamet Samsoerizal (Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 230 Jakarta) Judul Buku :  Balada Ibukota,  Seri Esai Pu...

Menghadirkan "Balada Ibukota" ke Kelas

Resensi oleh:
Slamet Samsoerizal
(Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 230 Jakarta)



Judul Buku Balada Ibukota, Seri Esai Puisi Indonesia Provinsi DKI Jakarta
Nama Pengarang Akhmad Sekhu, Elze Peldi Taher, Exan Zen, Monica Anggi JR, Satrio Arismundandar, Syaefuddin Simon
Penerbit         :  Cerah Budaya Indonesia (CBI)
Tahun Terbit Agustus 2018 (Cetakan Pertama)
Nomor ISBN 978-602-0812-21-2
Tebal Buku xx + 134 halaman

Buku antologi puisi esai bertajuk Balada Ibukota (da-I) berisi 6 puisi yang ditulis oleh enam penyair. Keenam penyair tersebut adalah Akhmad Sekhu dengan puisi Balada Bram Taklukkan “Kota Gelisah” Jakarta, Elza Peldi Taher dengan Manusia Gerobak, Exan Zen dengan Nusapati dan Pilkada Jakarta, Monica Anggi JR dengan puisi Kasih di Kisah Kampung Sawah, Satrio Arismunandar  dengan Balada Mat Ropi yang Terpinggirkan, dan Syaefuddin Simon dengan puisi Salman di Panti Orang Gila. Secara umum, buku ini mengangkat tentang kiprah manusia urban yang mencoba peruntungan di  Jakarta.  

Manusia Kalah
Kisah dari para tokoh yang kalah menghadapi hidup di ibukota begitu mendominasi. Itu tampak bahwa 1 dari 6 puisi menyodorkan kepada pembaca akan nasib buruk para tokohnya. Kita membaca puisi Akhmad Sekhu yang berkisah tentang Bram  anak kampung, yang kurang beruntung ketika merantau ke Jakarta untuk berharap bisa menjadi “orang”. Ia terpaksa harus meninggalkan ibunya, Zubaedah, dan kekasihnya di kampung untuk dapat bekerja di Jakarta yang keras. Di kota “The Big Durian” inilah ia merasakan tantangan yang sebenarnya. Pekerjaannya berat, namun dengan gaji tak seberapa, padahal kekasih barunya di Jakarta, Marni, cenderung materialistis. 

Lantas ada puisi Elza Peldi Thaer yang  bercerita tentang kehidupan tentang Atmo. Dia hidup sebagai manusia gerobak bersama istri dan kedua anaknya. Atmo adalah penduduk desa yang datang mengadu nasib di ibu kota dengan membawa istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Mereka tinggal di kawasan kumuh Manggarai. Sampai suatu saat, Mawar anaknya yang masih kecil sakit. Ia membawa ke rumah sakit dan puskesmas, tapi ditolak karena tak punya biaya. Pihak rumah sakit menolaknya tanpa iba sedikit pun. Atmo bingung dan sedih, apalagi sang istri tercinta tiba-tiba saja hilang tanpa jejak . Akhirnya, Mawar, sang putri tercinta meninggal. Setelah meninggal, Atmo malah kebingungan mau dimakamkan di mana karena biaya pemakaman di Jakarta amat mahal. 

Setelah berhari-hari akhirnya Atmo menguburkan jenazah Mawar di kampung halamannya. Atmo berpikir biaya pemakaman di kampung lebih murah. Ia pulang naik kereta api dari stasiun Manggarai. Saat masuk stasiun itulah Atmo ditahan petugas karena membawa jenazah anaknya yang sudah membusuk. Atmo ditahan karena tak punya bukti keterangan meninggal dan KTP sebagai identitas diri. Usaha Atmo meyakinkan bahwa anaknya meninggal, sia-sia karena tak ada surat keterangan dari rumah sakit. Cerita tentang Atmo yang ditahan karena membawa jenazah anaknya yang membusuk akhirnya tersebar. Kawan-kawan Atmo, sesama orang miskin, yang kemudian mendengar cerita Atmo, mencoba membantu membebaskan Atmo dari petugas yang bermaksud menahannya.

Ada pula tokoh Nusapati yang kalah dalam Pilkada DKI Jakarta, yang memicu konflik SARA dan banyak menyita perhatian publik, baik publik tanah air maupun publik internasional. Puisi ini ditulis oleh Exan Zen dalam Nusapati dan Pilkada Jakarta. Selain itu Satrio Arismunandar pun mengangkat tentang kekalahan Mat Ropi, tokoh asli Betawi yang  tersisih dan terpinggirkan. Sosok orang Betawi di sini dipersonifikasikan sebagai Mat Ropi, anak tuan tanah Betawi yang dulu pernah berjaya. Tetapi sesudah orang tuanya wafat, Mat Ropi dan keluarga kalah dalam “pertarungan ruang hidup” di Jakarta, dan terpinggirkan. Mat Ropi mencoba bertarung untuk mempertahankan martabat dan kehidupannya sebagai orang Betawi, antara lain lewat menghidupkan sanggar budaya Betawi. Namun terbukti itu tidak mudah. Nasib belum berpihak padanya. Kini orang Betawi seperti Mat Ropi jadi tersingkir, dan tidak lagi merasa sebagai “tuan rumah” di Jakarta.

Kemudian tokoh lain yang diangkat oleh Syaefuddin Simon adalah Salman. Siapakah Salman? Salman adalah pemuda pintar yang dengan kesadaran sendiri mengimani Lia Eden dan Jibril yang diutus Tuhan untuk mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Tindakan Salman tersebut tentu saja mendapat tantangan keras dari orang tuanya, istrinya, dan mertuanya. Mereka berusaha mengembalikan Salman ke jalan yang benar, yaitu dalam agama Islam yang murni. Tapi Salman menolaknya. Salman dimasukkan ke Panti Rehabilatasi Jiwa karena dianggap gila. Identitasnya seperti KTP, SIM, dan paspor diambil orang tuanya. Salman menjadi orang tanpa identitas. Orang terbuang. Dengan berbagai cara akhirnya Salman bisa keluar dari panti. Salman kembali ke Komunitas Eden dengan identitas baru.

Sedangkan puisi yang mengangkat tema lain tentang toleransi beragama ditulis oleh Monica Anggi JR. Puisi Monica Anggi berkisah tentang kerukunan agama Islam dan Kristen di Batavia pada zaman kolonial, hingga muncul konflik agama Ibrahimik di zaman pergerakan. Ini adalah kisah mengenai sejarah panjang kisah toleransi beragama di tengah kaum Betawi Kampung Sawah, ketika Gereja Katolik, Yayasan Pesantren, dan Komunitas Kristen Protestan berdiri berdekatan dan saling membantu. Kisah nyata ini ada sejak Zaman Kristen Protestan berkembang di Batavia zaman kolonialisme Belanda. Di dalam kisah perjalanan tersebut, ada kisah romansa (fiktif) antara tiga sekawan yang membangun hangatnya jalinan toleransi di Kampung Sawah. Sam, Anas, dan Nesi adalah tiga sekawan asli Betawi di era sebelum Indonesia merdeka. Mereka bersahabat erat walau berbeda agama; Sam beragama Katolik, Anas beragama Islam, dan Nesi beragama Kristen Protestan. 

Konflik terjadi ketika Sam dan Anas jatuh hati kepada sahabat perempuan mereka, Nesi. Anas yang melihat Nesi memberikan surat cinta kepada Sam naik pitam dan merasa dikhianati. Ia memutuskan untuk bergabung dengan oknum kelompok pelopor di awal tahun 1945. Saat oknum kelompok pelopor ingin membakar gereja, Nesi terperangkap di dalamnya dan akhirnya meninggal dunia. Meninggalnya Nesi mengingatkan Sam dan Anas tentang pentingnya persatuan dan perkawanan antarkaum Betawi, terlepas apa pun agamanya.

Adakah nilai kemanusiaan sebagaimana dipaparkan, memiliki manfaat untuk kita resap renungkan? Ya. Bram, Atmo, Nusapati, Mat Ropi dan Salman memberikan ragam pengalaman kehidupan kemanusiaan yang dapat dijadikan sebagai cermin. 

Sebagai puisi esai, keenam puisi dalam Da-I ditulis secara khas. Pertama, dari segi tipografi keenam puisi tersebut ditulis dengan teknik kolase dan menuliskan bagian dengan angka-angka. Tiga puisi memerlukan enam bagian, dua puisi memerlukan 8 bagian, dan satu puisi berjudul Manusia Gerobak memerlukan 12 bagian dalam penuturannya. Konsekuensinya, puisi terpanjang Manusia Gerobak berisi 530 larik.  Kedua, puisi tersebut memiliki menyertakan catatan kaki. Catatan kaki menjadi sentral dalam puisi esai. Catatan kaki itu menunjukkan bahwa fiksi ini berangkat dari fakta sosial. Jika pembaca ingin tahu lebih detail soal fakta sosial itu bisa menggali dan merujuk pada kenyataan sosial baik melalui berita aktual.


Menghadirkan “Balada Ibukota” ke  Kelas
Apakah antologi puisi da-I, dapat dihadirkan di kelas? Sebagai salah satu sumber pustaka, antologi tersebut dapat dijadikan sebagai bahan ajar pada jenjang SMP karena dua hal. Pertama, mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII SMP terdapat Kompetensi Dasar (KD) yang berkaitan dengan pembelajaran puisi yakni: KD 3.7 mengidentifikasi unsur-unsur pembangun teks puisi yang diperdengarkan atau dibaca, dan KD 4.7 menyimpulkan unsur-unsur pembangun dan makna teks puisi yang diperdengarkan atau dibaca (Kemendikbud, 2017: 25). Kedua,  nilai sosial kemanusiaan yang terdapat dalam keenam puisi tersebut layak dihadirkan di kelas. Hal ini bertujuan  agar kelak para siswa memiliki kesalehan sosial dengan peduli nasib (kurang beruntung) yang menimpa orang lain dan bagaimana hidup dalam keberagaman suku, agama, dan ras. 

Ruang  lingkup pembelajaran sastra (termasuk puisi), menurut Kosasih (2017:xiii) mencakup pembahasan konteks sastra, tanggapan terhadap karya sastra, dan menciptakan karya sastra. Pengenalan konteks sastra dapat berupa peristiwa dalam sastra yang diambil dari dan dibentuk oleh faktor sejarah, sosial, dan konteks budaya. Menanggapi karya sastra adalah kegiatan identifikasi gagasan, pengalaman, dan pendapat dalam karya sastra dan mendiskusikannya. Menilai karya sastra merupakan kegiatan menjelaskan dan menganalisis isi karya sastra dan cara pengarang menyajikannya. Siswa memahami, menafsirkan, mendiskusikan, dan mengevaluasi gaya khas pengarang dalam menggunakan bahasa dan cara penceritaan. 
 
(Penulis berdiskusi dengan salah satu kelompok siswa yang akan memusikalisasikan puisi Manusia Gerobak)

Dalam konteks ini, guru dapat merancang pembelajaran KD 3.7 mengidentifikasi unsur-unsur pembangun teks puisi dan KD 4.7 menyimpulkan unsur-unsur pembangun dan makna teks puisi yang diperdengarkan atau dibaca.  Bertolak dari kedua KD tersebut, guru dapat merumuskan IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) dan tujuan pembelajaran.  Oleh karena itu, mendiskusikan  salah satu puisi esai -misalnya Manusia Gerobak dari antologi da-I  merupakan langkah awal keterlibatan siswa dalam mengapresiasi. Sejumlah pengetahuan tentang unsur-unsur pembangun teks puisi seperti: tema, amanat, rima, latar, nilai kehidupan, dan bahasa didiskusikan antarsiswa sesuai kelompoknya. Masing-masing kelompok kemudian menyajikan hasil diskusinya. Dalam hal ini, peran guru sebagai mediator dan fasilitator dituntut agar mampu menjembatani konsep tentang tema, amanat, rima, latar, nilai kehidupan, dan bahasa yang mereka sampaikan ketika berdiskusi. Hasil diskusi merupakan perolehan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Inilah kegiatan yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran apresiasi puisi. Sebagai keutuhan dari apresiasi sebagaimana yang diamanatkan dalam kedua KD adalah siswa dapat mengomunikasikan puisi Manusia Gerobak baik dibacakan langsung maupun dikreasikan dengan pemusikan (musikalisasi) puisi.  Dalam tulisan ini diberikan contoh kreativitas siswa dalam membacakan bagian /2/ Manusia Gerobak  yang dibawakan oleh Irsya, Aurel, dan Adi dengan iringan Beat Box (akapela) pada tautan https://web.facebook.com/slamet.samsoerizal1/videos/10212625432178570/ . ****

1 comment:

  1. Cukup mengundang penasaran untuk membaca antologi puisinya.

    ReplyDelete