Artikel Ilmiah oleh: Erwan Juhara*) (Sekretaris Umum AGBSI) Pengantar  Bahasa hanyalah ada apabila didengarkan maupun di...

Guru Penulis Wajib Menguasai Semantik Bahasa

Artikel Ilmiah oleh:
Erwan Juhara*)
(Sekretaris Umum AGBSI)



Pengantar 

Bahasa hanyalah ada apabila didengarkan maupun diucapkan. Pendengar adalah patner yang tak terpisahkan. Artinya pada kegiatan komunikasi hadir bahasa wacana yang melibatkan penyapa dan pesapa. Demikian John Dewey seorang pakar bahasa Barat mengungkapkan hal itu dalam berbagai media massa.

Bahasa memang ada apabila didengarkan dan diucapkan karena hal itu berarti telah melibatkan bagian pikiran manusia sebagai motor pergerakan kehidupan berbahasa. Jadi, alangkah dekat dan tak pelak lagi bahwa bahasa erat kaitannya dengan pikiran. Bahkan ada pula yang berkesimpulan, jika hendak melihat pikiran seseorang dari dekat, maka salah satu objek penting yang bisa diamatinya adalah lewat bahasa yang digunakannya. Tidaklah berlebihan pula kalau realitas menunjukan bahwa asumsi dan estimasi ke arah itu banyak kebenarannya. Namun, bukan berlebihan pula kalau hal-hal seperti itu hanya tindakan spekulasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan karena berbagai hal yang terjadi dalam proses kegiatan berbahasa dari individu sendiri maupun dari pihak di luar si individu yang memberi berbagai stimulasi berbahasa. Situasi dan kondisi si individu pun turut berperan dalam penilaian proses berbahasa seseorang yang notabene bernalar. Misalnya, apabila kondisi individu keadaan sakit. Jadi, tak ada salahnya teori semacam itu gugur. Selain itu mustahil pula seseorang yang mampu berpikir dengan baik kalau dia dalam keadaan fisik sakit dan perut kelaparan. Penilaian seperti itu memang layak dilakukan dalam situasi formal yang benar-benar sehat dari subjek dan objek utama proses kegiatan berbahasa, yakni dari si penyapa dan si pesapa.

Dalam kegiatan berbahasa itulah lahir proses komunikasi yang secara tidak langsung telah melibatkan dunia Semantik sebagai dunia makna bahasa. Tentu saja Semantik itu meliputi semua bagian bahasa yang lisan, tulisan, isyarat, atau lambang. Semantik adalah “bahasa” di dalam aspeknya yang paling luas, paling inklusif. Bunyi, kata, bentuk, tatabahasa, konstruksi sintaksis adalah alat-alat bahasa. Semantik adalah tujuan yang diakui daripada bahasa. Jadi betapa besarnya peranan semantik dalam proses berbahasa ini.


Semantik Bagi Guru

Tidaklah salah untuk memilih satu di antara bagian-bagian bahasa sebagai lapangan studi yang khusus. Namun, semua spesialisasi dalam fonetik, fonetik atau fonologi, dalam morfologi dan bentuk-bentuk bahasa, bahkan dalam fleksiologi, sejarah kata dan langgam sastra harus disertai kesadaran bahwa dilihat dari sudut bahasa, segala bidang itu mau tak mau adalah tidak lengkap dan saling mengisi yang memberi sumbangan sedikit kepada gambaran menyeluruh daripada bahasa.

Itulah pula yang menjadi lapangan penting bagi para guru  yang terus menerus berkembang dalam zaman seperti ini. Bahkan sekarang guru harus berkarya, menulis sebagai pengembangan profesi gurunya. Peranan guru menjadi lebih berat dalam posisinya memberi pengertian yang lebih luas tentang dunia bahasa. Apalagi yang paling mendasar adalah menanamkan berbagai pengertian makna yang ada dalam bagian-bagian pelengkap bahasa secara jelas. Peranan bahasa yang demikian penting tentu saja amat terasa ketika dunia makna yang dipelajari dalam bagian bahasa yang disebut semantik selalu menyertai kemanapun bahasa itu bergerak.

Bahasa sebagai bagian dari kehidupan manusia yang pada umumnya dimiliki setiap orang beserta kegiatan pemaknaannya.dalam proses komunikasi memang bukan suatu yang ringan untuk dilakukan. Sehingga dari bahasa pula lah yang sering timbul berbagai kritis kehidupan yang diawali oleh krisis bahasa dan notabene di dalamnya telah terjadi krisis semantik dalam memperoleh kesepakatan dalam kegiatan komunikasi yang lancar. 

Contoh besar dalam hal ini bisa dilihat buktinya yang terjadi pada dua negara adikuasa di dunia ini yang oleh para wartawan dunia digambarkan terjadinya halangan-halangan utama untuk saling mengerti antara pihak sosialis Sovyet dengan negara-negara Barat salah satunya karena telah terjadi krisis dalam dunia semantik. 
Contoh khusus yang terjadi dalam dunia pengajaran bahasa adalah seringnya terjadi misunderstanding bahkan miscommunication antara dan murid dalam mengupas permasalahan bahasa. Hal itu pula yang menjadikan kegiatan berbahasa di masyarakat dan di sekolah kurang berhasil seiring perkembangan perbudayaan bangsa yang masih berkembang.

Jadi apabila dilihat sampai ke dalam, ternyata dunia semantik sebagai bagian yang selalu menyertai bahasa kemanapun berangkatnya dan kemanapun berubahnya adalah penting bagi guru; pertama kali untuk menghilangkan konsep krisis semantik di dalam pengajaran bahasa. Sehingga apa-apa yang terjadi dan digambarkan di atas tidak menjadi masalah pelik bagi kedua pihak. Pada akhirnya diharapkan tidak menjadi masalah bangsa secara umum yang lahir dalam dunia pendidikan.

Seperti yang kita ketahui pula bahwa makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya sehingga dapat saling mengerti, dalam keseluruhannya memiliki tiga tingkat keberadaan, yakni: 

1. Pada tingkat pertama, makna menjadi isi abstraksi dalam kegiatan bernalar secara logis sehingga membuahkan proposisi yang benar.
2. Pada tingkat kedua, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan.
3. pada tingkat ketiga, makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu.

Jadi seperti kata Wallace L. Chape (1973), bahwa berpikir tentang bahasa sebenarnya sekaligus telah melibatkan makna. Jadi, ketiga tingkatan keberadaan makna di atas adalah sisi-sisi penting yang paling berguna bagi para guru dalam mempelajari semantik.

Pada tingkat pertama saja para guru memperoleh berbagai kesempatan dalam melihat dan menumpahkan realisasi secara logis lewat kemampuan berpikirnya yang tertuang dalam bentuk bahasa. Hal ini sangat penting mengingat posisi guru yang selalu jadi subjek utama dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi kalau gurunya mampu melihat dan menumpahkan realitas dalam bahasa pikiran yang logis, tentu saja kemungkinan terjadinya krisis semantik dengan para murid akan kecil sekali karena segala bermasalah yang mungkin dimiliki guru dan siswa bisa dipecahkan dengan pikiran yang logis dan sistematis.

Pada tingkat kedua para guru secara tidak langsung wajib berbahasa dengan baik dan benar sesuai kaidah dan proporsi kebahasan yang menuntutnya sebagai seorang guru yang digugu dan ditiru oleh para muridnya, bahkan masyarakatnya. Isi kebahasaan yang baik akan selalu siap pada berbagai kesempatan yang menuntut wibawa seorang guru yang lahir sebagai bagian dari pribadi pemilik bahasa yang baik dan patut diteladani masyarakat sekolah dan masyarakat sekitarnya.

Pada tingkat ke tiga guru tentu saja membutuhkan satu situasi formal dalam menciptakan komunikasi dengan anak didiknya lewat makna bahasa sehingga lahir pula informasi yang berharga bagi si guru maupun para siswanya. Pada segi lainnya si tampak berbeda bahasanya dengan masyarakat lainnya dalam melakukan pencarian dan penciptaan informal yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Guru tentu saja di sini diharapkan sebagai sumber informasi yang penting bagi semua pihak. Akibatnya, berbagai dimensi makna yang tervisualisasikan dalam bahasa seorang guru adalah sekaligus infomasi yang bisa ditarik manfaatnya pun mungkin melahirkan berbagai kreativitas yang melahirkan informasi baru yang tak ternilai harganya bagi kehidupan.


Simpulan

Barangkali tidak berlebihan jika semantik memang menyertai kemana pun sang bahasa itu pergi. Oleh karena itu, semantik sebagai ilmu tentang makna merasa perlu untuk diajarkan ke pada para siswa maupun pihak lainnya yang merasa berkepentingan dengan dunia bahasa. Peranan semantik (makna) itu sendiri memang sering samar dari penglihatan, tapi terciptakan komunikasi adalah satu pertanda bahwa makna memang hadir dalam kegiatan sang  penyapa dan pesapa.

Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru adalah posisi yang penting dalam mengatasi salah satu krisis kehidupan manusia yang tak dianggap penting, yakni krisis semantik. Maka pemahaman guru terhadap keberadaan makna yang berada dalam tiga tataran eksistensinya adalah sangat penting sebagai alat utama pencegahan krisis semantik dalam dunia pendidikan dan kehidupan pada umumnya. Tiga tataran keberadaan makna itu pulalah yang menjadikan posisi guru penting sebagai sosok yang mesti lengkap secara sikap dan nalar sehingga bisa digugu dan ditiru murid dan masyarakat. Semoga saja!
***

Bacaan Pendukung:
Juhara, Erwan. 1990. “Lingkaran Setan Berbahasa” dalam H.U. Bandung Pos. Bandung: PT. Parahiangan
Martinet, Andre. 1987. Ilmu Bahasa: Pengantar. Yogyakarta: Kanisius
Pei, Mario. 1971. Kisah Daripada Bahasa, Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: Bhratara


*) Penulis pernah studi di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Diksatrasia) FPBS IKIP Bandung dan Jurusan Ilmu Sastra-BKU Filologi Program Pascasarjana Unpad Bandung. Selain sebagai penulis/pengarang buku atau tulisan di berbagai media massa, kini menjadi Ketua Umum Yayasan Jendela Seni Bandung (Wadah Pembinaan dan Pengembangan Virus Seni Budaya Bangsa), Sekretaris Umum Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Nasional dan Ketua Asosiasi Guru/Dosen/Tenaga Kependidikan Penulis/Pengarang (AGUPENA) Jabar. Pernah Mengajar di SMAN 1 Maja dan SMAN 1 Sukahaji Kab. Majalengka-Jabar. Kini Guru SMAN 10 Bandung, serta  Dosen MKU Bhs.Indonesia dan MKU Sejarah Kebudayaan Indonesia, di Jurusan Mandarin Akademi Bahasa Asing(ABA) Internasional Bandung. Kini ia tinggal di Jl. Sukapura 77  dan 79-B Rt 01/02 Kiaracondong Bandung 40285 Telp. (022) 7315622, 7334420 HP. 08122305043, 089628414580 Email: agupena_jabar @yahoo.com atau garudaj88 @gmail.com atau erwan_juhara@yahoo.com 

1 comment: