Resensi oleh:  Novianti, M.Pd. (Guru SMA 2 Binjai dan Pengurus DPW AGBSI Sumatra Utara) Sebuah karya sastra yang baik selalu da...

Bercermin dari Nh Dini dalam Menghadapi Perangkap Emosional

Resensi oleh: 
Novianti, M.Pd.
(Guru SMA 2 Binjai dan Pengurus DPW AGBSI Sumatra Utara)


Sebuah karya sastra yang baik selalu dapat dijadikan cerminan bagi masyarakat. Melalui karya sastra masyarakat akan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang hidup dan kehidupan. Jakob Sumardjo dan Saini K.M  mengemukakan: “Karya sastra besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Daripadanya kita memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia, dan kehidupan” 

Salah satu permasalahan kehidupan yang tak pernah ‘kering’ untuk dibicarakan adalah wanita. Wanita dengan segala problema yang dihadapinya. Seperti yang dikatakan oleh YB. Mangunwijaya : “Salah satu tema yang selalu mengejar dan menantang untuk diolah satrawan ialah tema tentang nasib wanita. Di mana-mana wanita selalu menumbuhkan daya tarik atau kejutan yang meneganggkan dan semacamnya.”  Oleh karena itu setiap kali ada karya sastra yang mengangkat masalah wanita, karya sastra tersebut   akan menjadi bahan yang menarik untuk dibahas.

Demikian halnya dengan novel Pada Sebuah Kapal (1973) karya Nh. Dini. Novel ini menjadi demikian menarik karena di dalamnya diungkapkan realitas sosial tentang wanita yang menghadapi permasalahan --terperangkap dalam perkawinan yang tidak bahagia, yang sangat mungkin juga dialami oleh banyak wanita masa kini.

Konflik-konflik psikologis yang dialami tokoh utama memenuhi hampir keseluruhan isi cerita. Namun yang paling utama adalah ketika tokoh utama akhirnya memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang sebenarnya belum   begitu  dikenalnya,   hanya  karena  suatu  alasan 
tertentu. Keputusan inilah yang kemudian menggiring Sri si tokoh utama pada pernikahannya yang tidak harmonis. Hal lain juga ketika  Sri merasa  telah menjadi istri yang mengkhianati perkawinan pada saat ia menemukan cinta sejati seorang pria lain yang dicintainya.

Disengaja atau tidak melalui tokoh Sri pengarang telah memberikan pembelajaran yang cukup berharga kepada masyarakat khususnya kaum wanita, bahwa hal yang dialami Sri dapat juga terjadi pada wanita di mana saja.

Latar  belakang pengarang yang banyak berada di lingkungan orang-orang asing dan tinggal di luar negeri, mempengaruhi watak dan karakter tokoh Sri. Pola pikirnya,  caranya memandang,  dan menyelesaikan suatu permasalahan. Sri adalah seorang wanita yang sangat perasa  namun memiliki keberanian dan prinsip yang kuat terutama akan hal-hal yang sudah diyakininya. Di samping itu ia adalah seorang wanita yang sangat tinggi ego kewanitaannya  dan penganut kebebasan. Tampaknya ini memang menjadi ciri karya-karya Nh Dini, seperti yang dikemukakan oleh Jakob Sumardjo dalam Horison: “Tokoh-tokoh wanita dalam novel Dini adalah pemberontak terhadap lingkungannya yang mengancam kebahagiaannya sebagai wanita. Mereka adalah wanita-wanita berani, berprinsip, individual, percaya diri dan liberal……….Mungkin ini pengaruh budaya barat pada diri pengarang yang memang lama menetap di Eropa.”
                             

Keyakinan yang memerangkap

Keputusan Sri menikahi Charles Vincent adalah tindakan berani, karena  sesungguhnya ia belum begitu mengenal pribadi Charles. Meskipun ia banyak mendapat gambaran tentang diri Charles melalui surat-surat yang diterimanya, namun itu hanya bersifat lahiriah. Sutopo kakak Sri yang paling memiliki kedekatan batin dengannya pun sudah memperingatkanya,  tapi Sri menentangnya.

Keyakinan Sri dalam mengambil keputusan memang banyak dilandasi dan dipengaruhi oleh perasaannya yang sentimental. Charles yang duda dan tidak kaya diyakininya lebih pantas daripada Carl yang memiliki segalanya.

Sama halnya ketika Sri dikuasai oleh segenap perasaannya untuk memasrahkan jiwa dan raganya kepada Saputro tunangannya. Kelembutan-kelembutan dan belaian sikap Saputro telah melambungkan perasaannya dan mengenyampingkan pertimbangan moralitas agama dan rasionalitas berpikirnya. Yang begitu diyakininya ketika itu adalah Saputro akan menjadi miliknya selamanya. adahal takdir masih memberikan banyak kemungkinan, Saputro tewas dan Sri harus berhadapan dengan ketakutannya sendiri akan dirinya yang tidak suci lagi. Keadaan ini yang kemudian menyebabkan Sri menikahi pria yang sebenarnya tidak dicintainya.

Yang dialami Sri merupakan problema yang dihadapi oleh banyak  wanita. Apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pengarang? Sesungguhnya keyakinan dan tindakan seorang wanita sering sekali dipengaruhi oleh perasaan-perasaannya. Ini sesuai dengan pendapat Heymans dalam Kartono: “Perbedaan antara pria dan wanita terletak pada sifat-sifat sekundaritas,    emosional,dan aktivitas dari fungsi-fungsi kejiwaan. Pada wanita fungsi sekundaritasnya tidak terletak pada bidang intelektual akan tetapi pada perasaan. Oleh karena itu nilai perasaan dari pengalaman-pengalamannya jauh lebih lama mempengaruhi kepribadiannya.”

Hal tersebut harus diakui kadang menjadi satu titik lemah seorang wanita. Untuk itu dengan tidak bermaksud menempatkan Sri pada posisi ‘bersalah’ sebab bagaimanapun Sri memiliki alasan yang cukup wajar, pembaca khususnya kaum wanita diharapkan memperoleh suatu hikmah yang sangat bermanfaat dalam mengelola emosi agar tidak terlalu mewarnai keputusan yang diambil.     

                                                                                        
Dilema yang Dihadapi Sang Pemberontak

Ketidakbahagiaan perkawinan yang dirasakan Sri, akibat dari perlakuan kasar dan sikap tidak menghargai yang ditunjukkan suaminya membangkitkan ‘pemberontakan dalam diri Sri. Sri yang semula lembut, nrimo, mulai berani menentang. Tidak jarang terjadi pertengkaran mulut antara  Sri dan  suaminya.    Di  lain  pihak   muncul  sikap apatis   Sri terhadap kehidupan rumah tangganya.

Sikap keegoan sebagai wanita yang ingin dihargai muncul dalam diri Sri. Sri membiarkan kekeruhan komunikasi dengan suaminya   terus berlangsung. Bagi Sri, suaminyalah yang harus berusaha mencari tahu tentang apa penyebabnya. Sri memilih banyak diam dan memendam kekecewaan yang dirasakannya .

Tanpa disadari oleh Sri keadaan tersebut telah menggiringnya ke dalam pelukan pria lain yang ditemuinya pada sebuah kapal dalam perjalanannya ke Marseille. Pria yang dirasakannya memiliki segala yang didambakannya sebagai seorang wanita. Dari sinilah perselingkuhan itu bermula. Sri dan Michel yang sama-sama tidak mendapat kebahagiaan dari pasangan hidupnya, merasa saling menemukan apa yang selama ini mereka cari. Jadilah mereka menghabiskan banyak waktu dalam kebersamaan yang intim selama dalam perjalanan. Sebagai seorang istri sebenarnya Sri masih memiliki nilai-nilai kesetiaan. Ia pun tak luput dari perasaan bersalah setiap kali menyadari bahwa dirinya telah menghianati suami dan pernikahannya.

Sri sebagai tokoh digambarkan pengarang adalah sosok wanita modern yang telah banyak bergaul dengan  kalangan  yang  luas.  Sri  adalah  pribadi  yang  mandiri,  tidak bisa  menerima perlakuan yang semena-mena, yang dianggapnya mengusik harga dirinya sebagai wanita, dan berpikiran bebas untuk menentukan kebahagiannya. Tetapi di sisi lain Sri masih merasa sebagai wanita timur yang memiliki tata nilai masyarakat yang pantas dipatuhinya.

Dua sisi kepribadian inilah yang memerangkap Sri dalam dilema antara perjuangan mencari kebahagiaan sejati, dengan tetap menjadi istri yang setia. Seperti yang diungkapkan oleh Anita K Rustapa: “Sri bukan orang yang menganut kebebasan dalam arti sepenuhnya. Ia ibarat orang yang melangkah ke depan dengan sebelah kakinya yang masih menancap pada tanah pijakannya semula” 

Gagasan pengarang tentang dilema yang dihadapi Sri ternyata masih sangat relevan dengan apa yang menjadi problem wanita abad ini. Begitu banyak wanita yang terperangkap dalam pernikahan yang tidak bahagia, dan akhirnya terseok-seok mencari ‘kebahagiaan lain’ di luar pernikahannya. Mereka berdiri diantara dilema itu dalam kegamangan.

Lalu siapakah yang pantas dipersalahkan? Dalam kasus Sri persoalannya bukanlah semata-mata mencari siapa yang salah. Sangatlah tidak bijak mempersalahkan Sri sepenuhnya atas perselingkuhan yang terjadi. Sebab bagaimanapun Charles suami Sri, dan Michele juga sama mempunyai andil. Charles Vincent dengan prilaku kasar dan kurang menghargainya telah menyebabkan Sri memalingkan mata hatinya pada pria lain. Sementara Michele dengan ketidakbahagiaan rumah tangganya dan kelembutan yang dimilikinya telah pula menjerat Sri.

Yang paling penting di sini kiranya mencari solusi terbaik menghadapi permasalahan tersebut. Memang secara tersurat pengarang tidak ada memberikan alternatif pemecahan. Namun secara tersirat dalam novel setebal tiga ratus lima puluh halaman ini, Nh Dini dengan gaya penceritaan yang cukup menarik, dengan analisis-analisis psikologisnya yang dalam, mencoba memberi gambaran tentang kekurangtegasan Sri dalam mengakhiri prahara rumah tangganya. 

Kekurangtegasan Sri ini menjadi salah satu penyebab berlarut-larutnya permasalahan yang mereka hadapi. Memang ada beberapa kali Sri menyampaikan keinginanya untuk bercerai dari suaminya. Namun tampaknya hal itu hanya masih sampai tahap wacana tanpa ada usaha yang dilakukan Sri untuk merealisasikannya. Padahal mungkin dengan mengakhiri kehidupan rumah tangganya dengan Charles suaminya, Sri akan dapat menata kembali kehidupannya   yang  lebih baik, tanpa merasa terbelenggu oleh lingkaran kehidupan rumah tangganya yang menyiksa. Dan pada akhirnya mencari kebahagiaan lain yang sesungguhnya bertentangan dengan batinnya.   

Perceraian mungkin memang bukan jalan yang terpuji, namun dalam buku Pribadi Mempesona La Rose mengatakan bahwa apabila seorang wanita sudah merasa mendapat perlakuan yang tidak wajar dari pasangan hidupnya, ia harus memiliki ketegasan untuk mengubah keadaannya. Wanita berhak menentukan pilihan, berpisah, atau meneruskan hubungan dengan risiko menemui keadaan yang lebih buruk.                       

Novel Pada Sebuah Kapal adalah ungkapan jujur seorang Nh Dini tentang realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Wanita yang mengalami ketidakbahagiaan perkawinan, lalu mencari kebahagiaan lain di luar perkawinannya.  Bagaimana seharusnya seorang wanita, jika mungkin menghindari persoalan semacam ini? Lalu jika harus berhadapan dengan situasi tersebut sikap apa yang pantas ditempuh? Hal ini agaknya yang menjadi gagasan sentral pengarang.

Melalui novelnya yang disajikan secara unik karena memuat dua bagian, yang masing-masing berjudul Penari dan Pelaut ini, pengarang mengemukakan hal yang sebenarnya menjadi akar permasalahan problema yang dihadapi tokoh utama Sri. Kekurangmampuan Sri dalam mengendalikan emosi dan perasaannya dalam bertindak serta mengambil keputusan menjadi penyebab Sri terombang-ambing dalm alur kehidupan yang telah dipilihnya.

Terperangkapnya Sri dalam perkawinan yang tidak bahagia karena Sri terlalu mengikuti perasaannya dalam memilih pasangan hidup. Sri merasa keadaan dirinya yang sudah tidak suci lagi hanya pantas untuk ‘seorang Charles Vincent’ yang duda. 

Demikian pula pada saat Sri menyadari dirinya telah berada dalam situasi perkawinan yang tidak bahagia itu, Sri tak jua mampu bangkit untuk keluar dari permasalahannya. Sampai akhirnya ia terlibat dalam percintaan yang dilematis bersama Michel Dubbanton. Lagi-lagi semua persoalannya berakar dari kekurangtegasan Sri dalam mengambil sikap, karena sentimental perasaannya.

Jadi secara tersirat pengarang yang juga seorang wanita, sesungguhnya mengajak para wanita untuk lebih dapat menguasai dan mengelola emosi/perasaan. Dalam bertindak dan mengambil keputusan, terutama yamg menyangkut masa depan hendaknya lebih mengedepankan logika dan pemikiran yang lebih matang. Jadikan moralitas agama dan norma sosial sebagai acuan dan bahan pertimbangan. Jangan sampai kehalusan budi dan perasaan yang dimiliki oleh kaum wanita pada umumnya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, justru menjadi titik lemah kaum wanita. Tetapi hendaknya menjadi potensi wanita untuk dapat bertindak secara bijak dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.


0 coment�rios: