Opini oleh: Dra. Ipa Ratna Mutiara, M.Pd. (Ketua DPD AGBSI Kota Medan) Sebagai seorang guru yang mengampu mata pelajaran Baha...

Ayo Membaca di Gerakan Literasi Kelas (GLK)

Opini oleh:

Dra. Ipa Ratna Mutiara, M.Pd.
(Ketua DPD AGBSI Kota Medan)


Sebagai seorang guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, penulis merasa bertanggung jawab untuk ikut mengembangkan “Gerakan literasi Sekolah”, yaitu dengan mengajak para siswa untuk suka membaca dan menjadikan buku sebagai kebutuhan, seperti halnya kebutuhan sandang dan pangan. Membaca buku sebagai literasi dasar siswa merupakan langkah awal untuk mampu berliterasi dalam arti yang lebih luas. 
Apakah itu literasi? Dari berbagai rumusan pengertian literasi yang ada, penulis mengambil definisi dari “National Institute for Lyteracy” yang mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Di dalam definisi ini literasi diartikan lebih dari sekedar baca dan tulis. Kemampuan baca dan tulis merupakan gerbang utama bagi pengembangan literasi secara lebih luas. Seorang yang literat mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan nyata.
Salah satu cara untuk meningkatkan literasi itu adalah dengan banyak membaca. Hanya sangat disayangkan bahwa membaca bukanlah budaya masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan siswa, bila kita perhatikan, begitu rendah minat baca siswa kita. Ketika kita tugaskan membaca sebuah teks saja, mereka tidak mau membacanya, bahkan tidak perduli. Contohnya ketika disuruh membaca teks yang ada dalam soal, mereka malas membacanya. Bagaimana lagi untuk membaca buku pelajaran atau buku tambahan lainnya. Keadaan ini tidak serta merta kita salahkan siswa dan kita tidak berusaha keluar dari persoalan ini. 
Saya mencoba menanamkan gerakan suka membaca di kelas-kelas yang saya masuki. Saya mulai dengan mewajibkan siswa untuk membeli buku. Saya tidak memaksa atau memberatkan siswa untuk membeli buku, tetapi saya  mengajak siswa untuk  menabung sisa uang sakunya setiap hari. Sisa uang saku yang sudah terkumpul dibelikan buku yang diminati oleh siswa. Awalnya saya ajak siswa membeli buku yang dia sukai, tetapi tetap saya arahkan dan saya ajak membeli  buku tentang seorang tokoh yang sukses atau yang menginspirasi. 
Mengapa saya memilih seorang tokoh? Dari seorang tokoh siswa biasa mengambil pembelajaran bagaimana si tokoh tersebut bisa sukses berkarya. Dapat dipastikan bahwa si tokoh dalam perjalanan hidupnya banyak menemukan hambatan dan rintangan. Keberhasilannya tentu tidak lepas dari kemampuannya dalam menyelesaikan masalah ketika merintis karier atau usahanya sampai sukses. Si tokoh bisa sukses tentunya harus banyak belajar baik dari buku maupun dari orang-orang yang sudah terlebih dahulu sukses. 
Adapun langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan Pra-baca, yaitu siswa membaca sekilas isi buku atau biasa disebut membaca scanning atau membaca sekilas.
2. Siswa menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan isi buku. Boleh juga dengan membuat pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan bacaan.
3. Siswa membaca keseluruhan isi buku sambil membuat catatan-catatan penting dari isi buku.
4. Selanjutnya siswa membuat tulisan laporan hasil membaca buku tersebut dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pada waktu prabaca atau berdasarkan catatan penting ketika membaca.
5. Siswa membacakan laporan hasil membacanya di depan kelas. Siswa lain boleh menanggapi atau bertanya yang berkaitan dengan isi buku.
6. Siswa senang ketika berhasil membaca buku tersebut dan melaporkan hasil membacanya tersebut di depan kelas.
Kegiatan membaca berikutnya adalah membaca karya sastra. Mengapa harus karya sastra? Setelah mereka membaca buku yang berkaitan dengan realita atau fakta yang mengembangkan olah pikir mereka maka siswa juga perlu dibawa untuk mengembangkan olah rasa dan olah hatinya melalui imajinasi yang ada dalam karya sastra. Di dalam karya sastra mereka bisa mendapatkan nilai-nilai kehidupan, seperti nilai moral, nilai etika, nilai pendidikan, nilai agama, dan nilai keindahan yang mereka butuhkan dalam pergaulan sehari-hari.  
Saya juga memberikan batasan karya sastra yang mereka baca, yaitu karya sastra dari   sastra Indonesia. Mengapa harus karya sastra Indonesia? Pertama, bahwa hampir dapat saya pastikan anak-anak sekarang tidak lagi mengenal karya-karya sastra, seperti Azab dan Sengsara karya Merari Siregar sebagai roman pertama Indonesia, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, dan lain-lain. Saya pernah bertanya tentang karya-karya tersebut, anak-anak tidak mengenalnya. Kedua, saat ini karya yang banyak disukai anak-anak kita adalah karya-karya asing, baik dari Barat, China maupun Korea.  Sudah jelas bahwa nilai-nilai yang mereka dapat adalah nilai-nilai asing yang tidak sesuai dengan nilai leluhur kita. Ketiga, melalui karya sastra Indonesia diharapkan kita mampu menanamkan nilai-nilai luhur atau budaya bangsa yang saat ini sudah terpapar dengan budaya asing. 
Semoga usaha yang saya lakukan dapat meningkatkan minat membaca siswa

0 coment�rios: