Opini oleh: Panji Pratama, S.S., M.Pd. (Jurnalis, Guru SMAN 1 Nagrak)  Saya hampir ikut-ikutan marah ketika hendak masuk Tol P...

TO-EL

Opini oleh:
Panji Pratama, S.S., M.Pd.
(Jurnalis, Guru SMAN 1 Nagrak) 



Saya hampir ikut-ikutan marah ketika hendak masuk Tol Purbaleunyi. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah kesemrawutan di pintu masuk tol. Semrawut saat masuk tol sebetulnya bukan masalah yang baru. Yang membuat viral adalah penggunaan e-toll untuk membayar transaksi masuk jalan tol.
Nah, yang bikin saya marah itu istilah e-toll-nya. Kenapa kata toll harus di belakang e? Nyambung atau tidak nyambungnya keresahan saya, ya pokoknya dipicu istilah e-toll-nya, bukan misi yang dibawa kartunya itu. Maklum, saya sering ketakutan kalau-kalau orang-orang menyebut istilah asing tersebut dengan sengaja salah.
Memang sih di beberapa ruang publik, istilah tersebut diperkenalkan dengan terjemahan Transaksi Non Tunai. Namun, tahu sendiri lah orang kita. Segala sesuatu itu harus serba ekonomis. Pun kosa kata. Dulu, kita dihebohkan dengan istilah gegara dan tetiba yang dibentuk untuk menghemat kata tiba-tiba dan gara-gara. Karena keviralan itu pula, reramai eh maksud saya ramai-ramai, para bahasawan menggubrisnya.
Alangkah asiknya jika istilah e-toll ini pun dikomentari. Andai saja, kita sandingkan dengan kata ¬e-mail yang sudah ada padanan istilah bahasa Indonesianya: surat elektronik. Maka, e-toll pun sebetulnya bisa saja dipadankan menjadi tol elektronik. 
Masalahnya, kecenderungan pemakai bahasa Indonesia -seperti sudah saya ungkapkan sebelumnya- seringkali mengakronimkan sesuatu hingga dianggap lema yang mandiri, seperti halnya rudal yang lebih dianggap kata yang mandiri, padahal akronim dari peluru kendali. Nah, ditakutkan di masa depan, karena pertimbangan ekonomis ini, padanan kata tol elektronik dipersingkat menjadi to-el.
Jika sudah begitu, tentulah banyak keresahan lain yang akan terjadi. Saya membayangkan, jika e-toll bermutasi menjadi to-el. Nanti, setiap orang yang mau masuk tol mencari-cari dulu sesuatu yang bisa di to-el. Jika sudah demikian, jangankan sebutan istilah e-toll yang sengaja dibuat salah, istilah to-el pun bisa jadi menjadi perilaku menyimpang.
Memang di negeri ini, segala sesuatu selalu dibuat serba salah. Itulah yang bikin saya resah.

*) Tulisan ini pernah dimuat di Surat Kabar Pikiran Rakyat, 12 November 2017

0 coment�rios:

Himne Bahasa Indonesia Cipt. Jajang Priatna Arr. Puji Astuti Terpujilah Tuhan Maha Kuasa  Tlah Kau ciptakan Indonesia Raya  ...

Hymne Bahasa Indonesia


Himne Bahasa Indonesia
Cipt. Jajang Priatna
Arr. Puji Astuti



Terpujilah Tuhan Maha Kuasa 
Tlah Kau ciptakan Indonesia Raya 
Negeri yang indah penuh pesona 
Bangsa yang ramah peduli bahasa 

Wahai bangsaku cintai negeriku 
Satu bangsa satu bahasaku 
Jadikan sebagai jati dirimu 
Meski berbeda tetap bersatu 

Bangsaku… Berjaya… 
Berbudi bahasa dalam kemajuan.. 
Cintailah… syukurilah… 
Bahasa Indonesia anugerah Tuhan 

Wahai bangsaku cintai negeriku 
Satu bangsa satu bahasaku 
Jadikan sebagai jati dirimu 
Meski berbeda tetap bersatu 

Bersatu… Berjaya… 
Peduli bahasa dalam kemajuan 
Lestarilah… abadilah...
Satu bahasaku jaya Indonesia 
Satu bahasaku jaya Indonesia 

###


Unduh audio mp3
Unduh partitur hymne bahasa Indonesia

0 coment�rios:

Susunan pengurus AGBSI Pusat Masa Bakti 2018-2023 dapat dilihat pada SK berikut ini: SK Pengurus Pusat AGBSI

Pengurus AGBSI Pusat



Susunan pengurus AGBSI Pusat Masa Bakti 2018-2023 dapat dilihat pada SK berikut ini:

SK Pengurus Pusat AGBSI

0 coment�rios:

Menanggapi antusiasme dan permintaan para guru di berbagai daerah agar dapat membentuk AGBSI di daerah masing-masing maka bersama ini d...

Pedoman AGBSI Daerah


Menanggapi antusiasme dan permintaan para guru di berbagai daerah agar dapat membentuk AGBSI di daerah masing-masing maka bersama ini disampaikan Tata Cara Pembentukan AGBSI di Wilayah Kota / Kabupaten
Silahkan klik di link berikut : 
Apabila ada pertanyaan lebih lanjut silahkan hubungi kami melalui email: agbsi.info@gmail.com

0 coment�rios:

Dokumen pendirian AGBSI SK Kemenkumham Kongres I Akta Notaris Kongres I NPWP AGBSI

Legalitas AGBSI


  1. Dokumen pendirian AGBSI
  2. SK Kemenkumham Kongres I
  3. Akta Notaris Kongres I
  4. NPWP AGBSI

0 coment�rios:

Anggaran Dasar Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) disahkan sesuai dengan Akta Notaris Selengkapnya bisa di download disi...

AD/ART AGBSI


Anggaran Dasar Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) disahkan sesuai dengan Akta Notaris
Selengkapnya bisa di download disini
Anggaran Dasar AGBSI
Sedangkan Anggaran Rumah Tangga (ART) Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) bisa di download disini
Anggaran Rumah Tangga AGBSI
Apabila ada pertanyaan lebih lanjut bisa di email ke agbsi.info@gmail.com

0 coment�rios:

Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Provinsi Banten meluncurkan buku bertajuk menulis dan tantangan guru di masa depan. T...

Luncurkan Buku Esai AGBSI Tulis Problematika di Banten


Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Provinsi Banten meluncurkan buku bertajuk menulis dan tantangan guru di masa depan. Terbitnya buku yang ditulis oleh 16 guru bahasa Indonesia di Banten ini bertujuan untuk memberikan bukti nyata dan teladan kepada siswa. Acara berlangsung di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten, Sabtu (6/4).
Ketua AGBSI Provinsi Banten Neli Fori Karliana mengatakan, guru harus kreatif dan inovatif dalam melakukan pengajaran. Dengan menulis sebuah buku, hal tersebut menjadi bukti nyata dan sejarah hingga akhir zaman. “Alhamdulillah, ABSI Banten sekarang meluncurkan buku,” katanya kepada wartawan kurungbuka.com di sela-sela acara.
Sementara itu, tutor kegiatan menulis Esai AGBSI Banten Rahmat Heldy Hs mengaku, para guru bahasa Indonesia ini melakukan proses kreatif menulis buku ini selama tiga minggu. “Mereka menulis esai tentang segala macam problematika di Banten. Mulai dari politik, pendidikan, sampai hal-hal kecil lainnya,” ujarnya.
Buku yang didukung oleh DPK Provinsi Banten dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten tersebut akan diikutsertakan dalam acara Hari Buku Sedunia di Komunitas Rumah Dunia pada 20-21 April 2019 mendatang.


Berita ini pernah tayang di:

0 coment�rios:

Jakarta, MINA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan bahwa guru Bahasa Indonesia harus bisa meng...

Mendikbud: Guru Bahasa Indonesia Harus Kuasai Bahasa Daerah dan Asing


Jakarta, MINA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy mengatakan bahwa guru Bahasa Indonesia harus bisa menguasai bahasa daerah dan asing.Hal ini disampaikannya saat membuka Kongres AGBSI (Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia) dan Konferensi Nasional Pengajaran Bahasan dan Sastra Indonesia di Jakarta Pusat, Senin (8/10).
“Guru bahasa Indonesia itu harus bisa menguasai bahasa daerah dan bahasa asing, bahasa daerah harus dilestarikan agar tidak hilang dan punah, bahasa asing agar mudah untuk berkomunikasi dengan bahasa negara asing. Dan kita juga ingin agar Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa internasional,” katanya.
Menurutnya, guru Bahasa Indonesia harus cerdas dan kreatif untuk mendinamisir kurikulum yang ada, kurikulum yang perintip (tertulis), karena kurikulum yang sesungguhnya adalah guru itu sendiri.Selain itu, dalam menyikapi zaman milenial, di mana anak-anak sudah tidak lagi menyukai bahasa sastra daerah untuk itu Mendikbud meminta agar guru harus bisa mengembalikan keadaan tersebut.
“Saya minta guru-guru Bahasa Indonesia itu untuk bisa mengembalikan tradisi sastra daerah, termasuk misalnya sastra-sastra klasik,” ujarnya.
Pada konferensi AGBSI yang ke 1 (satu) Tahun 2018 ini, Mendikbud mengapresiasi semangat kesejawatan yang dibangun para guru yang tergabung dalam asosiasi tersebut.Ia berharap agar AGBSI terus mendorong profesionalisme guru, baik dari aspek keilmuan, maupun kualitas pembelajaran, serta tanggung jawab sosial.
“Kita ini sedang berjuang untuk meningkatkan profesionalisme guru,” ujarnya.
Muhadjir mendorong organisasi asosiasi guru, termasuk AGBSI, untuk menyusun dan menetapkan kode etik profesi guru. Juga membentuk dewan profesi. Organisasi asosiasi profesi harus mampu menjaga martabat profesi.
“Asosiasi profesi itu yang mengawasi kerja sejawatnya. Seorang profesional itu harus memiliki harga diri dan kebanggaan atas profesinya, keahliannya. Nanti jika ada pelanggaran dalam praktik profesi, dewan profesilah yang melakukan pembinaan,” kata Muhadjir.
Mengambil tema “Menuju Bangsa yang Literat melalui Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”, konferensi dan kongres guru bahasa dan sastra Indonesia ini dilaksanakan pada 8 sampai 11 Oktober 2018, diikuti oleh 301 peserta dari 34 provinsi di Indonesia.

Berita ini pernah tayang di:

0 coment�rios:

Dok. Kemendikbud Muhadjir Effendy saat membuka Kongres Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) 2018 di Jakarta, (8/10/2018). ...

Guru Bahasa Diminta Kembalikan Tradisi Bersastra

Dok. Kemendikbud Muhadjir Effendy saat membuka Kongres Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) 2018 di Jakarta, (8/10/2018).

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengimbau guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menumbuhkan minat dan kecintaan siswa terhadap sastra.
Menurut Mendikbud, karya-karya sastra sangat kaya dengan nuansa yang mencerdaskan siswa.
"Saya mendorong guru Bahasa dan Sastra Indonesia memperbanyak pengajaran sastra, tapi bukan sastra dalam arti pengetahuan, namun sastra yang dipraktikkan. Sastra ini sangat kaya dengan nuansa yang mencerdaskan," kata Muhadjir Effendy usai membuka Kongres Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) 2018 di Jakarta, (8/10/2018).
Mendikbud menekankan pentingnya guru Bahasa Indonesia mengembalikan tradisi bersastra, terutama membaca dan memperagakan karya-karya sastra klasik.
"Jadi dalam penerapannya, tidak boleh ada siswa yang tidak membaca karya siapa (sastrawan) yang dianggap klasik. Kalau di negara barat misalnya Shakespeare," kata Mendikbud dilansir dari laman Kemendikbud.
Selain mengajarkan sastra, guru Bahasa Indonesia harus memiliki kemampuan mayor, yakni mampu mengajarkan bahasa Indonesia dan kemampuan minor yakni penguasaan bahasa asing dan bahasa daerah.
Kemampuan berbahasa asing dan bahasa daerah menjadi penghubung antarbahasa.
Khusus penguasaan bahasa daerah, guru sebagai pengajar juga menjadi agen untuk melestarikan bahasa daerah. "Guru Bahasa Indonesia juga harus menguasai bahasa daerah dan bahasa asing. Yang bisa melestarikan bahasa daerah, ya guru Bahasa Indonesia," ujarnya.
Muhadjir mendorong organisasi asosiasi guru, termasuk AGBSI, untuk segera menyusun dan menetapkan kode etik profesi guru dan membentuk dewan profesi.
"Asosiasi profesi itu mengawasi kerja sejawatnya. Seorang profesional itu harus memiliki harga diri dan kebanggaan atas profesinya, keahliannya. Nanti jika ada pelanggaran dalam praktik profesi, dewan profesilah yang melakukan pembinaan," kata Muhadjir.
Mendikbud berharap organisasi profesi guru seperti AGBSI terus melakukan pembinaan dan pelatihan guru. AGBSI juga diharapkan terus mendorong profesionalisme guru, baik dari aspek keilmuan, kualitas pembelajaran, serta tanggung jawab sosial.


Berita ini pernah tayang di: 

0 coment�rios: