Bandung – Guneman. “Kita harus bangga karena AGBSI merupakan organisasi profesi guru yang dikelola semuanya oleh guru,” ujar Ketua AG...

 


 

Bandung – Guneman. “Kita harus bangga karena AGBSI merupakan organisasi profesi guru yang dikelola semuanya oleh guru,” ujar Ketua AGBSI (Asosiasi Guru dan Bahasa Seluruh Indonesia), Jajang Priatna. Perlahan tapi pasti, AGBSI semakin menancapkan eksistensinya sebagai organisasi guru yang profesional.

 

Tanggal 28 November 2019, DPP AGBSI melantik 70 orang guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia baik setingkat SMP, SMA, maupun SMK sebagai pengurus DPW AGBSI Provinsi Jawa Barat.

 

Prosesi pengukuhan pengurus AGBSI Provinsi Jawa Barat sendiri disaksikan oleh pejabat Balai Bahasa Jawa Barat dan Pengurus Forum Taman Bacaan Masyarakat Provinsi Jawa Barat. Dua organisasi yang kian berkembang tersebut digabung dalam acara Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang digagas Balai Bahasa Jawa Barat di Hotel Fox Harris City Centre Bandung (28/11).

 

“Kami berharap menjadi wadah terbaik bagi guru-guru bahasa Indonesia di Provinsi Jabar untuk mengaspirasikan kreativitasnya. Kami tentu berharap, para guru bahasa Indonesia menjadi garda terdepan dalam mengantarkan anak-anak didik milenial dalam menajamkan potensinya.” Ujar Susanto, ketua DPW AGBSI Jawa Barat.

 

Selain itu, ketua DPW AGBSI terpilih, mengungkapkan keinginannya dalam meningkatkan kualitas literasi generasi mendatang jelang tantangan PISA mendatang.

 

“Untuk itu kami memohon sinergi yang dinamis dengan stakeholders lain seperti halnya dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat Prov. Jawa Barat.”

 

Seumpama gayung bersambut, FTBM Jawa Barat siap bersinergi dengan organisasi AGBSI untuk merintis dan memetakan jalan gerakan literasi nasional.

 

“Semoga program keduanya bisa saling berkaitan.” Ujar Umi Aam Siti Aminah, selaku Kepala Bidang Organisasi FTBM Jawa Barat

 

Dalam kegiatan tersebut pula, peserta yang hadir diajak untuk praktik menulis prosa yang dibimbing langsung oleh Penulis Kawakan GolAgong. Nantinya, kegiatan ini bisa dijadikan praktik baik secara langsung ke siswa di sekolah maupun masyarakat pemerhati literasi. *Panji Pratama*


Link Asli: Guneman Online

    Puisi-Puisi Rima Nurkomala ( Sumber : infosmi.id: Curug Banteng Sukabumi) Saat  Sendiri Rindu membuncah Mendesak air mata untuk menetes ...

  Puisi-Puisi Rima Nurkomala


(Sumber: infosmi.id: Curug Banteng Sukabumi)



Saat  Sendiri

Rindu membuncah
Mendesak air mata untuk menetes
Menyeretku untuk bertekuk di depanMu

Tapi rindu kadang pergi
Ke keramaian kota
Terpana dengan segala
Rindu menjadi sangat materialistis
Luluh menatap dunia
Sehingga membutakan mataku dariMu

Saat aku terlempar dari kecamuk hidup
tersungkur
rindu itu datang lagi
Haruskah setiap saat aku terlempar
Agar rinduku padaMu selalu membuncah

***



Drama Wahsyi

Tatkala kehilangan cinta dunia berhenti
Aku berdiri kaku, seperti Wahsyi
Hidupnya adalah kegelisahan yang abadi
Detik-detik waktu yang sepi adalah penjara

Mengapa Ablah membiarkannya diselimuti gelisah
Perempuan itu mendekati cahaya-cahaya surga
Cintanya berlari menjauh
Seperti titik hitam dan putih yang tak bisa bersatu

***



Jampang, Kami Pulang


Kota kembang gemerlap dalam malam
Terangnya sampai ke sudut kamar
Tempat kita bergelut dengan kata

Kita hanya jadi penonton dari temaram lampu kosan
Tentang mereka dalam hiruk pikuk kota

Nun di sana ada wajah yang menunggu
Dan kita berpeluk dalam rindu yang mencucup

Kota kembang merajuk
Membujuk untuk bertahan
Namun kita harus pergi seusai purna tugas

Jampang, kami pulang
Menyusuri wajahmu yang berkelok penuh debu
Menggilas kerikil yang terlindas
Di balik gunung yang tak lagi hijau
Di antara dahan pohon yang meranggas
Dan tanah merekah yang memelas pada  hujan 

Jampang, kami pulang
Datang untuk berperang melawan ketakberdayaan

***



Tentang Penulis
Rima Nurkomala,S.S.,Gr. lahir di Sukabumi,  15 Maret 1983.  Tahun 2005 lulus dari kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Meskipun meraih gelar Sarjana Sastra, namun menjadi guru merupakan impian sejak SMA.  Saat ini mengajar di SMAN 1 Jampangkulon. Bersama komunitas PeKa (Perangkai Kata) Rima membuat antologi cerpen "Cinta tak Bersimpul" dan antologi puisi "Cerita Bersama Kawan".



+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++

  Puisi-Puisi Kania Rismayanti (Sumber: https://ikhamiracle27.files.wordpress.com) TENTANG ISI KEPALA Isi kepala ku ‘riuh...

 Puisi-Puisi Kania Rismayanti


(Sumber: https://ikhamiracle27.files.wordpress.com)


TENTANG ISI KEPALA

Isi kepala ku ‘riuh’
akan Tanya dan jawab..
tapi mulut ‘dibungkam’
seribu macam kebisuan

isi kepalaku ‘jenuh’
penuh dengan keluh
hingga merajam ke ulu hati
yang mulai ‘keruh’

isi kepala ku kecut
dan hampir ‘mengerucut’
nyaliku semakin ‘ciut’
saat dihadapkan dengan
para ‘pengecut’

isi kepala ku,
dimanakah isi kepala ku?
Apa ia pergi, hilang,
Atau menumpang pada isi kepalanya?
‘parasit’
***



BUIH CINTA DARI TUHAN

Dalam kubangan luka
yang teramat nanar
Tuhan tak pernah lupa 
menyelipkan tegar

Dalam ruang kesedihan
yang terbangun megah
Tuhan tak pernah lupa 
meletakkan buih-buih cinta

Dalam derasnya air mata
yang luruh jatuh pada jiwa yang bersimpuh
Tuhan pun tak pernah alpa
mengusap derita

Lewat embun, angin, 
kabut, bahkan pelangi
Mereka bak sebuah harapan
yang menyusup dalam nestapa

Menyembuhkan lara
mengembalikan savana
memeluk hari-hari 
menjelma beribu bahagia
***



SILUET JINGGA

Ibarat senja yang hadir menutup nirwana,
Menghempas gundah dengan balutan kasa-kasa rasa...
Mengobati semua luka yang terlanjur menganga..

Rintik hujan yang berbisik merdu 
Sejenak melupakan ku pada malam yang sembilu..
Lama ku terpaku hingga nyaris terbujur kaku
Namun Tuhan masih sedia memberikan nafasku

Kulihat warna jinggamu dibalik mendung pagi ini..
Begitu indah menawarkan aroma rasa yang bergelora..
Tatkala sepi merasuk, meronta di dalam jiwa
Sungguh aku terjebak pesona mu hai jingga...

Wahai jingga, 
sungguh tega kau biarkan ku menua 
dengan rasa yang tak pernah bermuara..
***




Tentang Penulis
Kania Rismayanti adalah pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Cikembar, Sukabumi. Penulis lebih senang dipanggil dengan nama pena Kanya Trias. Lahir 37 tahun lalu tepatnya tanggal 25 September di kota Intan, Garut.  Seorang plegmatis juga humoris yang memiliki hobi merangkai kata-kata puitis. Sangat senang menikmati senja ditemani secangkir kopi, karena baginya senja adalah harapan. Motto hidupnya sederhana: “Jangan mencoba merubah sesuatu yang tidak kamu sukai, tetapi ubahlah cara pandangmu dalam menilai sesuatu.”



+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++

  Puisi Akrostik Iyus Yusandi (Sumber: pribadi) MUHARAM Meniti hari menata kala Upaya MengingatMu segala Maha Hadir setia...

 Puisi Akrostik Iyus Yusandi

(Sumber: pribadi)


MUHARAM

Meniti hari menata kala
Upaya MengingatMu segala Maha
Hadir setiap helaan napas
Allahu Akbar
Raja segala raja
Al Khalik Maha Pencipta
Mengatur gerak dan laku

#Akrostik_Iye, 19 Agustus 2020: 19.00
***



TUJUH BELAS

Tekad bulat membaja
Unggah rasa dan gagas
Jelmakan imaji
Untuk negeri
Hidupkan puisi

Berkibarlah panji sakti
Ejawantahkan semangat merah
Luhurkan budi suci
Aman nyamankan rasa
Selama diksi serasi dengan janji

#Akrostik_Iye: 9 Agustus 2020: 12.38
***


DIRGAHAYU INDONESIA

Derap langkah gempita
Indonesia berjaya di tanah tercinta
Republik apik nan cantik
Genap tujuh puluh lima
Akankah semakin jaya
Hidupkan bangsa berbhineka tunggal ika
Aneka adat budaya
Ya Indonesia
Umur renta penuh cerita

Ini negeri khatulistiwa
Negeri elok amat kucinta
Darah merah menyerta
Obor semangat jiwa
Nyatakan dalam karya
Ejawantahkan aksi kreasi
Seni tradisi negeri sendiri
Indonesia jaya
Aman damai sentosa

#Akrostik_Iye, 16 Agustus 2020; 19.59.
***


Tentang Penulis
Drs. Iyus Yusandi, M.Pd. dilahirkan di Garut 53 tahun lalu. Mengabdi menjadi Guru SMAN 18 Garut. Sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Garut yang aktif di Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat, Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia tingkat provinsi.




+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++

(Sumber: bnpb.go.id) MATA AIR, AIR MATA (Saripuddin Lubis) Simpan saja air matamu Nanti kau kan tak sanggup membasahi ...

(Sumber: bnpb.go.id)


MATA AIR, AIR MATA
(Saripuddin Lubis)

Simpan saja air matamu
Nanti kau kan tak sanggup
membasahi kering penyesalan masa silam
Lalu air mata siapa yang esok mengantarmu
ke rumah tasbih maha luas itu

Kelopak matamu tak kan lepas-lepas
mencari mata air, air mata
di kubang-kubang duka, di mendung ladang
Takbir menyeru
              sepanjang pagi,
                      sepanjang siang,
                          sepanjang gelap,
                              berjenjang tangis

Tiap batu, tiap pasir kan menjemput air matamu
Mengeramnya, merebahkannya pada keampunan

Binjai, 26 Juli 2020
***


PERJALANAN
(Arif Rahman Hakim)

Kita yang tidak saya apalagi kamu bukan saya juga bukan siapa siapa kadang luka duka bahkan bisu beku bin pilu tak nampak merajuk harap di sisa usia  menua dimamah masa. 

Luka-luka menganga, liku- liku membisu  mnghimpit sisi jalan yang dilalui sejumput rumput tempat ku rebah raga dalam menebas kegelisahan gontai lelah untuk mengais harap
tetes keringat berkah guyur tubuh.

Sementara hujan menghapus debu.
Matahari setia
Tak ada kuasa menghindari
Semata jalan kulalui
Sabar tawakal adalah teman
Sirna sisa kerja keras hikmah tawakal adalah peristiwa menimpa waktu terus bergulir biar bumi ditumbuhi rerumput menebar hijau asa kian menyilaukan arti hidup yang makin mnguak sunyi berkabut misteri tak dapat kusibak erat diam tak faham harusnya mungkin kusadari, tapi entah ku mampu resapi kerja keras sekedar bertahan hidup untuk nikmati arti bahagia keluarga riang. Peluh dingin tak menggoyah semangat
Kesedarhanaan menawarkan hening menjaga pulih apa adanya.

Seruling bambu menyuarakan hati gundah terapi sepi dari setapak jalan menanti belaian kasih hati ini selalu berbisik untuk mengurangi derita roda nasib berputar di ketulusan yang mengalir di dalamnya 

Adakah hari ini masih bisa kurasakan hadirnya keadilan? 
Tuhan setiap langkahku menjadi untaian rasa syukur atas semua rizki yang selalu kau berikan  menahan luka dan kepedihan. Tak ada satupun ramuan yang paling mujarab selain belaian kasih yang kami berikan dan kami terima.

Masih banyak cinta yang kumiliki untuk menebus semua derita ini, saya  tidak pernah menyalahkan takdir tak pernah ku membenci keadaan mungkin kelak akan kutemukan sebuah jawaban tentang sebuah makna di balik Setiap peristiwa, karena hati ini begitu yakin jika Tuhan selalu menciptakan takaran yang seimbang 

Hidup adalah kehendak-Nya maka jalan untuk meniti kehidupan selalu terbentang cinta yang berpacu di dalam jiwa ini terus mendebarkan tetap semangat ikatan batin ku begitu kuat menyentuh jauh ke dalam nurani. Aku berusaha untuk tegar berdiri demi menunaikan panggilan hati atas derita yang tak akan pernah berujung ini. Jika hanya terpuruk di alam dan nilai dari sebuah kekuatan hati selalu semangat yang masih tersisa Biarkan hujan terus menyirami bumi agar terus menumbuhkan benih-benih harapan yang baru dan akan selalu seperti semua karunia hidup yang masih terhampar di tengah belantara.

Mari terus berjalan mengitari  bunga yang diserbu jutaan kupu-kupu dan lebah, untuk mengikuti irama serta aroma wanginya, mengecapi rasa madu yang dirasa kupu-kupu dan lebah. Banyak merasa walau rasa fatamorgana tapi penghayatan adalah keniscayaan lebih dahsyat. Menjadi syurga yang sebenarnya di atas fakta-pahit yang makin  memahit memahat di relung renung tak berujung pangkal.

Ciracap, 17082020
***

Tentang Penulis
Saripudin Lubis adalah tokoh sastra Binjai Sumatera Utara. Penulis juga masih aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA  Negeri 1 Binjai dan Dosen Sastra STKIP Budidaya Binjai.

Arif Rahman Hakim adalah budayawan dan penulis asal Geopark Ciletuh Sukabumi. Penulis juga masih aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA  Negeri 1 Ciracap.


+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++

Puisi-Puisi M. Herdi Sigit (Sumber: pixnio.com) PENCARI TERANG Mendung bergelayut Berhari, berbulan, bertahun habiskan waktu ...

Puisi-Puisi M. Herdi Sigit

(Sumber: pixnio.com)


PENCARI TERANG

Mendung bergelayut
Berhari, berbulan, bertahun habiskan waktu
Duduk dibangku, setingkat-setingkat, ditapaki
Bertumpuk sertifikat belum hasilkan apa-apa

Bersama datangnya hujan
Berlari, mencari keteduhan dapatkan rizki
Belum juga temukan yang pasti
Orang seperti apa yang dibutuhkan di negeri ini?

Tembok birokrasi terlalu tinggi
Tuk segera dapatkan legalisasi
Seperti hanya sebuah mimpi
Harapan untuk mengabdi, ikut membangun negeri

Hujanpu telah reda, namun senja berganti malam
Secercah cahaya nampak dari kejauhan
Berlomba lagi menggapai cahaya harapan
Berbondong-bondong, semua…
Berubah seperti laron pencari kerja
Tetap berusaha mencari Nomor Induk pegawainnya
Kepakan sayap, berputar putar
Berputar-putar, berputar putar
Sampai sayapnya lepas satu, sayapnya lepas satu
Berkerumun, bergandengan mengikuti temannya, dan akhirnya pulang.
Ketika Matahari terbit, yang ada tersisa sayap-sayap harapan 
Dan segera hilang disapu angin seiring datangnya siang.
***



ILMU

Melihat wajahmu begitu enggan  menatapnya
Kulirik kulitmu begitu halus 
dengan penuh rasa enggan
Kucoba terus kudekati dan berusaha taklukanmu
Mata,  pikiran dan konsentrasi ku curahkan padamu

Panjang betul kau uraian segala yang kau punya
Kau tumpahkan uraian detail dari bab ke bab secara runtut
Setelah ku selami ternyata kau begitu menyimpan banyak pengetahuan
Misteri yang jadi pengetahuan buatku

Engganku berubah menjadi keasikan
Malasku kembali bangkit setelah kubuka helaian demi helaian
Tak bosan cumbui, dirimu Setiap jengkal kulitmu
Jemari berhenti temukan makna tanpa henti
Berpeluh keringat temukan ilmu berserak

Kupinang dirimu dan kubawa masuk ke dalam pikiranku
Menyatu dijiwa dan ragaku, 
bersamamu melangkah menjadi ringan, tak gentar hadapi masalah
Gelisah tiada lagi, selalu nyaman bersamamu

Lihatlah…..
Mereka dari berbagai penjuru mencarimu
Berseragam sekolah, bersarung berpeci apaun yang mereka kenakan
Mereka tak merasa lelah, tak merasa bosan, terus belajar, tentang apa saja demi ilmu
***


KESOMBONGANMU

Dikerumuni teman sejati
Berkolusi tak taat perintah guru
Lalaikan tugas sekolah mengajak teman adu nyali, 
untuk jaga gengsi, walau temannya ada yang mati
Merasa kuat, bacok sana bacok sini karena punya dekeng POLISI
Dicoba diperbaiki, tak hasilkan putusan pasti

Orang tua seharusnya menasehati, datang terkesan melindungi
Menuding, Sekolah lah yang salah tak mampu berikan pendidikan yang mumpuni
Lembaga disudutkan, dikerdilkan dirampas oleh ketidak sadaran orang tua
Namun…
Gagahmu tiada lagi
Gagahmu tak tampak lagi
Kekayaanmu, kekuasaanmu tak mampu cetak ijazah
Sesali diri tiada arti, waktu telah berganti
Apapun yang kau miliki

Tak berarti.
***


Tentang Penulis
M. Herdi Sigit adalah salah satu staf pengajar di SMA Negeri 1 Cikidang, yang sudah dia geluti selama hampir llima belas tahun, dan mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis bertempat tinggal di Kp. Cipetir Rt. 02/01 Desa Cicareuh Kecamatan Cikidang. Lahir di Bantul, 19 Juni 1977. No. HP. 085724774994


+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++

BUKAN KARENA Oleh: Saripudin Lubis (sumber: pixabay.com) Di atas sajadah seperti masa sebelum peristiwa menyedihkan itu, Rina k...

BUKAN KARENA
Oleh: Saripudin Lubis

(sumber: pixabay.com)

Di atas sajadah seperti masa sebelum peristiwa menyedihkan itu, Rina kembali mengaji selepas Shubuh.  Udara dingin sedikit membuat suara Rina serak, namun tetap lantunan ayat suci itu terdengar merdu. Suara bacaan Sholat dari masjid-masjid yang tadi bersahut-sahutan telah berhenti. Orang-orang bergegas kembali ke rumah untuk bersiap mencari rezeki di tanah Tuhan. Kini silih berganti kicau burung cicit dari tanah kosong depan rumahnya. Mata Rina masih sembab bersebab peristiwa dua Minggu lalu. Sesekali isak masih terdengar pedih. Anak semata wayangnya yang masih berusia tiga tahun telah bertemu Sang Khalik. Anak lelaki yang ketika mendapatkannya pun harus menunggu lama sebelum lahir ke semesta.  Ya, Ryan wafat setelah dinyatakan positif terpapar Covid-19 di rumah sakit Harapan Sehat. Pemakamannya pun dilakukan di komplek khusus korban covid-19, tentu jauh dari makam suaminya yang wafat baru satu setengah bulan. Dengan mengikuti prosedur pemerintah, pemakaman Ryan hanya dillakukan oleh tim medis berjumlah enam orang.  Dari kejauhan Rina hanya bisa menangis dan menangis.

Rina sudah mencoba ikhlas, namun mengapa ia harus mendengar perkataan Pak Al.  “Aduh, ini maaf lho Bu Bu Rina. Kalau ajal memang sudah pastilah itu. Namun barangkali bisa juga Ryan tertolong kalau saja Ibu tidak membawa langsung ke rumah sakit di kota Binjai.  Ini maaf lho, Bu Rina, seharusnya almarhum Ryan Ibu bawa langsung kemarin ke Rumah Sakit Internasional Bintang Medis Medan. Rumah sakit itu dokter-dokternya lebih profesional. Buktinya cucu saya, alhamdulillah sudah bisa dibawa pulang sebentar lagi. Saya khawatir anak Ibu bukan terkena Covid, bisa saja DBD atau yang lainnya.” Pak Al yang juga terkenal kaya itu dan pandai ceramah agama itu mengatakannya diselingi kata ‘maaf’ berulang-ulang. Tapi bagi Rina itu pukulan yang luar biasa menghunjam ulu hatinya. Hati Rina baling.

Tak terasa air mata Rina kembali tumpah dan membasahi Al Quran yang dibacanya. Rina berusaha mengambil kertas tisu untuk mengelap halalaman Al-Qur’an itu agar tak terlalu basah. Entah mengapa tiba-tiba Rina merasa imannya tengah terbang melayang-layang. Sambil Rina mengelap, sejenak Rina membaca arti ayat Al-Qur’an yang Ia baca tadi. Surah ke sepuluh, ayat 49: Katakanlah: “Aku tidak kuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya”. Rina tercenung. Rina kembali menangis, namun kali ini air mata atas nama kebodohannya. Bukankah sudah begitu lama ia menghafal arti ayat itu. Hati Rina tiba-tiba terasa lega. Ia merasa menemukan dirinya kembali. Baru saja hendak menutup Al-Qur’an, dari masjid dekat rumahnya terdengar pengumuman. “Innalillahi wa innailaihirojiuun. Telah berpulang ke rahmatullah Santi yang bersusia lima tahun, yang merupakan cucu dari Pak Al. Saat ini jenazah masih di Rumah Sakit Internasional Bintang Medis Pusat. Insyaallah akan dikebumikan nanti selepas Zhuhur”.
***

Tentang Penulis:
Penulis adalah tokoh sastra Binjai Sumatera Utara. Penulis juga masih aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA  Negeri 1 Binjai dan Dosen Sastra STKIP Budidaya Binjai.


+++
AGBSI menerima kiriman naskah baik berupa fiksi dan nonfiksi. Tulisan ditik rapi dengan format .doc atau .docx dan dikirim ke alamat surel: redaksi.agbsi.2020@gmail.com. Tulisan yang dimuat tidak diberikan honor. Namun, jika beruntung akan dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi setahun sekali. 
+++